Distro Academy : School of Clothing

Membuka Kursus Usaha Bikin Tas

















Aku sering dibilang orang, banyak melakukan kekonyolan. Apalagi untuk memulai bisnis yang sama sekali baru. Tidak punya bekal kompetensi apapun saat memulainya...

Dari kekonyolan itu, ada yang kemudian jadi, namun tak juga sedikit yang tumbang ditengah dijalan. Seringkali kalau punya gagasan, justru menjadi mimpi buruk kalau tidak dieksekusi.

Seringkali aku tak membikin perancanaan yang matang. Kadang hanya mengandalkan intuisi dan feeling. Mungkin ini sesuai test stifin, saya ini intuiting extrovet. Ah, tak tahulah apa itu. Cuman yang kucatat, orang intuitif cocok untuk mengagas hal-hal baru. Kerja para seniman dan mungkin kaum yang selalu mencari jalan baru.

Kaum yang mudah bosan dengan cara-cara lama. Oh iya, ada sederatan kegagalan pahit getir yang barangkali bisa dinikmati kepahitannya.

Pernah suatu kali memindahkan ubi cilembu dari asalnya ke blitar. Gagal total. Pernah juga mendirikan penangkaran burung, dimaling orang. Pernah plasma kambing, dari sekian banyak cuman balik modal. Pernah bikin digital printing, tutup sebelum buka. Dan sebagainya.

Saking banyaknya yang gagal, ada semacam daya imum terhadap kegagalan. Cuman, aku punya rumus menarik, yang sarikan dari raja factory outlet bandung.

Start small. Mulailah dari yang terkecil. Andai kau punya modal 100 perak, gunakan 10 perak untuk memulai bisnis yang sama sekali baru. Kalau berhasil, alhamdulillah. Kalau gagal tak membuatmu bunuh diri.😀

Rumus kedua, besarkan bisnis itu jika pertumbuhannya bagus. Tapi kalau terus loyo berkepanjangan, segera saja dikubur, biar ndak banyak cash out yang keluar.

Rumus ketiga, pakai jurus etika makan, makanlah dari makanan yang terdekat denganmu. Maksudnya, jika mau mengembangkan sesuatu bisnis, pilihlah bisnis yang ada korelasinya dengan bisnis utamamu. Itu akan mereduksi potensi gagal, karena setiap bisnis ada kunci-kuncinya.

Rasio kegagalan bisnis diluar kompetensi, terlampau besar. Jika sudah ada pohon bisnis induk yang menjadi core, bertanamlah disekitar bisnis utama itu.

Ada teori paten tentang fokus energi bisnis, 70 persen fokus dibisnis utama, 20 persen dibisnis yang berhubungan dengan bisnis utama, sisanya 10 persen bisa dimainkan dibisnia yang sama sekali baru.

Tantangan atau bahkan godaan bagi entrepereneur, selalu fokus pada bisnis baru, lupa mengurus bisnis lama. Jika godaan ini tak dikendalikan, bisa jadi bisnis utama layu, bisnis baru tak kunjung tumbuh.

Seperti hari ini, saya lagi fokus pada 20 persen, mengembangkan kursus produksi tas distro, sebagai salah satu pilar distro academy. Ngeborong mesin jahit tas, yang ternyata beda fungsi dengan mesin jahit kaos. Baru tahu...😎

Oh iya, tunggu juga produksi tas2 kami ya...